
Tulisan ini terinspirasi oleh film “Heartbreak kid”, sebuah filem yang dibintangi oleh ben stiller, seorang aktor yang cukup kocak. Oh ya sebelumnya, apabila ada beberapa hal dalam tulisan ini yang memicu pertengkaran, perdebatan, gender dan lain-lain, dengan segala kerendahan hati saya mohon maaf sebesar-besarnya. Filem ini bercerita tentang perjalanan sebuah hubungan sepasang kekasih, yang dimulai dari masa mereka ketika masih jomblo, pacaran dan akhirnya menikah. saya tidak mau membahas secara detail tentang filem ini, cuman ada beberapa bagian yang saya anggap cukup menggambarkan betapa kehidupan pernikahan itu tidak seindah yang dibayangkan oleh sebagian orang terutama para wanita.
Banyak cewek (wanita) yang ngerasa kalo pasanganya mulai berubah, gak sayang (t*i!!) ketika mereka sudah membina hubungan rumah tangga, mereka (wanita) menganggap bahwa itu adalah salah satu bentuk penipuan seperti halnya iklan tarif kartu prabayar handphone, padahal sih.. kalo mau teliti.. pada saat awal membina hubungan seharusnya sudah bisa mengendus gelagat si pasangan apabila tidak serius dalam berhubungan.
Yang kedua, banyak wanita yang secara sengaja menurunkan grade-nya di hadapan pasangan setelah mereka menikah, mungkin ini disebabkan si wanita menganggap bahwa pernikahan adalah sebuah tujuan, sehingga apabila tujuan sudah tercapai, mereka tidak berusaha memperbaiki kualitas dirinya dan terlalu bergantung kepada pasangan. Hal ini bisa menyebabkan si pasangan (lelaki) mencari sumber2 lain yang lebih atraktif dan menantang, atau hal ini juga bisa menyebabkan terjadinya KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), karena si lelaki merasa berada dalam posisi di atas(berkuasa). Banyak kasus yang memberi contoh bahwa pada saat masa pacaran, si lelaki menganggap si cewek adalah ratunya dan bersedia melakukan apapun untuk mendapatkannya, dan seolah-olah ratu beneran, si cewek tolol ini pun berusaha untuk sok jual mahal kepada si lelaki laknat tersebut, tapi nantinya akan terjadi perubahan status ketika mereka sudah masuk ke dalam lembaga pernikahan, yaitu si cewek secara sadar akan menurunkan statusnya dari seorang ratu menjadi gundik, memang ironis, tapi ini banyak terjadi di kehidupan kita.
Ketiga, Wanita seringkali menafsirkan bahwa hubungan pernikahan adalah sama dengan kebahagiaan, ekspektasi yang berlebihan ini mengakibatkan si wanita tidak siap dan shock apabila terjadi masalah dalam rumah tangganya. Tuhan memang menjanjikan rejeki yang bertambah kepada suatu pasangan yang berani memutuskan untuk menikah, tapi bukan berarti itu tanpa masalah, dan ingat!!, kalau pun pernikahan itu membahagiakan, pasti Tuhan tidak akan menjanjikan surga bagi umatnya yang taat, tapi akan dijanjikan sebuah pernikahan.
Saya disini bukan berniat menakut-nakuti semua pasangan yang ingin meresmikan hubungannya melalui lembaga pernikahan, saya sangat mendukung adanya itu, bahkan nantinya saya juga akan memasuki tahapan seperti itu, tapi bukan pernikahan yang bodoh dan sempit, yang menganggap kehidupan pernikahan itu layaknya sebuah telenovela yang selalu berakhir dengan kebahagiaan. Pernikahan adalah sebuah proses untuk mengejar kebahagiaan, jadi bukan kebahagiaan itu sendiri. Jangan berhenti sampe disitu, harus terus berusaha meng-upgrade diri, si cewek juga jangan memposisikan diri sebagai boneka yang seolah-olah benda mati, tapi posisikan diri anda sebagai pelontar dan pendorong si pasangan untuk mencapai kebahagiaan secara bersama-sama.