Forum Silaturahmi X

SMK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA MALANG

Resensi : Mereka Bilang Aku Kafir

Posted by contributor1 on March 6, 2008

muhammad-idris.jpgBuku yang satu ini menurut saya cukup berani, di tengah-tengah maraknya pemberitaan dan perdebatan tentang aliran-aliran yang dianggap sesat, yang menurut beberapa orang malah cenderung dianggap sudah masuk dalam kategori “meresahkan”, novel ini maju dengan tema tepat dan dalam waktu yang tepat juga.

Muhammad Idris adalah penulis buku ini, berjudul “Mereka Bilang Aku Kafir, novel Pertobatan Seorang Anggota Aliran Sesat”, diterbitkan oleh Hikmah, Oktober 2007. Novel yang diangkat berdasarkan pengalaman pribadi penulis ketika beliau masuk ke dalam sebuah aliran yang dianggap menyimpang dari budaya keislaman yang lazim, ironisnya si tokoh utama disini juga adalah seorang alumni sebuah pesantren.

__________________________________

Kata Kunci Kafir

Inti cerita bermula dari kehidupan si Idris, yang baru saja menyelesaikan pendidikan pesantrennya, dan kembali ke kampung halamannya di Jakarta. Dan akhirnya beliau berkenalan dengan seseorang bernama Pak Hanafi, nah dalam perjalanannya, Idris diajak oleh pak Hanafi untuk mendalami agama di rumahnya dengan tujuan mampu memahami Alquran dalam waktu yang singkat.

Tanpa disadari oleh Idris, lama kelamaan, Pak Hanafi mengajaknya untuk bergabung dengan sebuah organisasi keislaman tetapi menganut pemahaman yang diduga menyimpang dari ajaran yang berkembang di masyarakat. Pak hanafi dan kawan2, melakukan pendekatan kepada idris dengan cara yang sangat sistematis, dan kebanyakan dari mereka sudah mempelajari masalah-masalah psikologi sehingga dengan sangat mudah untuk mempengaruhi dan membuat percaya calon anggota.

Mengenai kasus idris ini, kebetulan si idris adalah sosok yang sangat ingin mendalami agama, dan oleh Pak Hanafi dkk dimanfaatkanlah momment tersebut untuk menjebak si idris dengan menyebut Idris sebagai orang kafir. Idris berontak, tapi semakin berontak idris terhadap tuduhan tersebut, semakin dalamlah ia masuk kedalam perangkap pak hanafi. Idris kemudian masuk ke dalam organisasi tersebut, dan mengikuti segala aktifitasnya, mulai dari training2 untuk mendapatkan anggota baru dan trik untuk mempengaruhi anggota baru tersebut untuk menarik harta2 mereka.

Selajutnya Idris pun aktif dalam organisasi tersebut, sampai akhirnya menikah dengan salah satu guru di pesantren yang dibangun oleh organisasi itu. Akhir dari perjalanan cerita ini, dimulai dari lahirnya anak pertama Idris, yang nantinya mulai mempengaruhi pikiran idris menjadi lebih terbuka terhadap pemikiran2 diluar ajaran yang dianutnya sekarang. Dan dengan ijin Allah, semua akhirnya terwujud, Idris berhasil keluar dan memulai hidup barunya bersama keluarga.

__________________________________

Nilai-Nilai

Pikiran Terbuka dan Pembelajaran Seumur Hidup

Melihat pengalaman dari si Idris yang notabene seorang lulusan dari sebuah pesantren bisa masuk kedalam kelompok yang dianggap sesat, menunjukkan bahwa sebenarnya kita harus terus mengupgrade diri akan pengetahuan tentang keislaman secara universal tanpa mengkotak-kotakan dari kelompok mana ajaran tersebut berkembang. Dari pengetahuan tersebut akhirnya kita bisa tahu dengan sendirinya mana yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah, dan mana yang tidak. Proses pencarian dan pembelajaran ini adalah proses seumur hidup dan tidak terjadi dalam waktu yang singkat.

Islam adalah Agama yang Sempurna, tapi yang Maha Sempurna tetaplah Allah

Bukannya bermaksud minder terhadap status keagamaan Saya, bahkan sampai detik inipun status saya masih muslim (setidaknya di KTP masih tercantum), dan saya tidak pernah menyoal mengenai aliran keislaman saya, tapi saya hanya ingin mempertegas posisi dan fungsi agama sebagai alat untuk mendekatkan diri kita kepada Dzat Yang Maha Sempurna:Allah, karena dari situlah kita baru bisa lolos dari jebakan pengkotak-kotakan antara kafir dan tidak kafir, lolos terhadap fanatisme buta terhadap suatu aliran, dan juga lolos dari pendewaan terhadap satu orang ulama saja. Aliran hanyalah sebuah seragam, dan sangat sesempit-sempitnya pemikiran apabila kita merobek-robek seragam orang lain dan memaksa mereka memakai seragam yang kita pakai, sedangkan esensi ilahiah dibalik sebuah seragam itu tidak bisa kita dalami.

Cak Nun pernah berpendapat tentang makna shahadat, bahwa sebelum seseorang mengenal apa itu arti Illallah (Hanya Allah), maka seharusnya mereka mengenal terlebih dahulu arti laa illaha, yang artinya tidak ada Tuhan, Ulama, Bapak, Ibu, Presiden, Uang, bahkan Agama itu sendiri tidak berhak menamakan dirinya sebagai Tuhan, atau yang dapat dipertuhankan, yang kita bela sedimikian rupa, dan berhak menentukan siapa itu kafir dan tidak kafir. Apabila kita sudah memahami itu, maka dengan sendirinya kita akan tahu apa-apa yang dibalik makna sebuah Illallah.

_________________________________

Fully Recomended

Buku ini cukup bagus, dan saya merekomendasikan kepada anda, bukan untuk mempengaruhi anda, dalam menilai dan menghukum suatu kelompok, tapi untuk belajar bersama-sama dan mencoba untuk berpikir terbuka terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Apa yang dialami oleh tokoh bernama idris ini setidaknya memberikan gambaran bagi kita terhadap adanya landasan keislaman yang lain, dan dengan demikian kita bisa memilah dan memilih untuk berdiri di landasan yang terbaik.

Advertisement

5 Responses to “Resensi : Mereka Bilang Aku Kafir”

  1. peetluv said

    hoiss sopo sing nulis resensi? kasih kode donk, ben lek aku kate nyilih bukune or ask for further information kiy ono sing dituju :D .

  2. Fauzan said

    very nice post…
    jd penasaran ama bukunya..

    mungkin tips menghadapi bnyknya perbedaan dlm islam :
    1. jangan asal memvonis “kafir, bid’ah dll”
    2. spt yg tersirat di atas, dgn bnyknya perbedaan kita hrs pintar memilah & memilih yang terbaik
    3. update ilmu dan wawasan keagamaan dari berbagai sumber

    semoga hidayah tetep selalu ada bagi kita..
    andaipun kita terperosok, semoga tuhan berkenan mengulurkan tangan-Nya melalui perantara yg dikehendakiNya.. Amiin..

  3. dhanhanafi said

    Pak Hanafi?
    kayaknya ga asing deh dengan nama itu…

  4. [...] dhanhanafi on Resensi : Mereka Bilang Aku Ka…Fauzan on Resensi : Mereka Bilang Aku Ka…peetluv on yours and mine..peetluv on Resensi : [...]

  5. Mas Yoog said

    To : dhanhanafi

    Sodara Darmadji , apakah kamuw sudah membuka aliran kepercayaan baru sehingga namamu masuk blog ….?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.