Forum Silaturahmi X

SMK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA MALANG

Archive for March, 2008

Hungry Planet

Posted by contributor1 on March 28, 2008

Makassar, 29 Februari 2008, Pukul 12.55

art2.jpg“Hai Salma!!!, sudah tiba waktumu!!”

“Siapa Kau??, mau menolong atau mengumpat segala keterbatasan ku ??” ucap Salma, setengah sinis, melihat bayangan hitam, serupa pria berbadan tegap yang telah mengagetkan tubuhnya yang sedang terkapar lemas di atas ranjang reot dari bambu berukuran 2×2,5 meter tersebut.

“Maafkan saya, saya hanya menjalankan tugas, bahwasannya saya harus menjemputmu sekarang juga, ya sekarang”

5 jam 45 menit sebelumnya, 29 Februari Pukul 7.10

Nama saya Salma, terlahir sebagai seorang wanita, 27 tahun yang lalu, saya tidak pernah berpikir sebelumnya untuk dilahirkan ke dunia ini dengan banyak kefakiran kelas akut yang menempel dalam diri saya bersamaan dengan darah-darah rahim ibu saya. Tanpa rasa ingin menvonis bersalah terhadap kedua orang tua saya maupun kepada Tuhan tapi seandainya kelahiran itu bisa dipilih, maka saya akan memilih dilahirkan sebagai salah seorang anak dari Pak Jono, seorang pejabat pemerintahan yang bergelar manusia terkaya di Republik ini, sehingga disaat pagi yang indah ini, saya bisa menikmati secangkir kopi hangat dan roti selai coklat hangat yang tersedia di meja hidang saya, sembari baca koran The Jakarta Post, ditemani anak-anak yang lucu-lucu, sehat, dan montok-montok itu sedang bermain air bersama para susternya. Okey, saya tidak boleh iri mengenai hal itu, karena memang hidup di dunia itu menganut hukum kesetimbangan, ada yang baik ada yang buruk, ada yang kaya ada yang miskin, dan dalam hal ini saya kebagian yang miskin, saya terima.

2 Jam 20 Menit Setelahnya, 29 Februari Pukul 09.30

Tiga hari ini, adalah tiga hari yang sangat panjang dan berat bagi saya dan mungkin juga bagi keluarga saya, bersama-sama terkapar berserakan dalam ruangan pengap, berbau sengak berukuran kecil 2×3 meter ini. Kami sekeluarga memang sering menghabiskan waktu di dalam ruangan ini, ruangan multifungsi, kadang berfungsi sebagai kamar tidur, ruang makan, sekaligus ruang menerima tamu juga. Dan selama tiga hari ini pun kami meretas waktu bersama-sama lagi di ruangan ini, bersama adik, dua kakak saya, dan juga Ibuku Salma yang sedang mengandung calon adikku yang kedua, bukan untuk tidur, bukan untuk makan, juga bukan menerima tamu, tapi hanya sekedar terkapar lunglai, terhempas dalam ketidakberdayaan. Tidak berdaya melawan waktu, Tidak berdaya terhadap himpitan ekonomi, tidak berdaya menghadapi kenyataan bahwa kami manusia, yang membutuhkan makan untuk bisa menyambung nafas.

Saya tengok Ibu disebelah saya, terlentang memegang perutnya yang sudah membesar, menghadap langit-langit rumah, mencoba tegar, bibirnya bergetar, dengan air mata yang terus mengalir walaupun matanya tetap terpejam. Tak lama waktu berselang tadi, Ibu saya, Salma namanya, mengelus rambutku, dan mencium dahiku, lalu dengan mata teduhnya ia memandangku sembari tersenyum berkata “Hilmi anakku, tabahlah, kita bisa melewatinya, tapi jikalau terlalu berat perutmu menahan rasa lapar itu, maka pejamkan matamu, tidurlah, bermimpilah yang indah, maka rasa itu akan hilang sayang….”

44 Menit yang lalu, 29 Februari Pukul 08.46

Saya pandangi satu persatu anak-anak saya, sesak rasanya hati ini, tak kuat melihat kondisi mereka yang kurus kering, perut membuncit, dengan berbagai penyakit kulit yang menempel dalam tubuh mereka.

“aku harus tegar, lebih tegar dari mereka”, begitulah aku menguatkan diriku sendiri.

Kalau dipikir-pikir memang semua ini adalah kesalahan kami, malapetaka dalam keluarga ini adalah kecerobohan kami dalam merencanakan kehidupan berumahtangga kami. Dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan ini kami tetap saja berkembangbiak tanpa ada kendali

“Kenapa tidak mengikuti program KB bu Salma??”, kata pak RT beberapa tahun yang lalu setelah kelahiran anak ketiga kami, Hilmi. Yaaa bagaimana mau KB pak, wong kami nggak ngerti cara dan juga manfaatnya, lagian satu-satunya hiburan ditengah-tengah kondisi yang terbatas akan akses ini ya hubungan hormonal itu. Saya tidak mengerti teori Malthus, dalam buku An Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society karya seorang begawan bernama Thomas Robert Malthus yang terkenal itu, yang mengatakan bahwa suatu saat nanti akan terjadi kemiskinan dan kelaparan karena pertumbuhan pangan sejatinya menganut hukum deret hitung, sedangkan pertumbuhan penduduk berdasarkan deret ukur. Saya tidak mengerti hal itu, dan untuk saat ini saya tidak mau tahu urusan itu, saya saat ini hanya ingin meyakinkan kepada anak-anak saya, bahwa kondisi ini akan segera berakhir dengan baik, saya pandangi sekali lagi, saya cium dahi mereka satu-persatu berharap bisa menguatkan mereka dan mencoba mengalihkan perhatian mereka.

4 Jam 9 Menit kemudian, 29 Februari 2008Pukul 12.55

Saya dibangunkan oleh rasa perih dalam ulu hati saya, seolah ingin muntah tapi tidak ada yang bisa dimuntahkan, badan saya sudah terlampau lemas, bahkan untuk menggerakkan kaki pun aku tak punya tenaga, Saya juga sudah tidak merasakan adanya pergerakan janin di rahim saya. Di tepi ranjang sekilas saya lihat beberapa orang termasuk suami saya sudah menunggu, menangis, tak tahu kenapa, ingin rasanya memanggil tapi saya tak bisa. Tiba-tiba ada sekelebat sosok bayangan hitam, tegap, dengan suara sedikit parau menakutkan, menyapaku.. Hai Salma!!!, sudah tiba waktumu!!”

“Apa maksudmu!?, aku tak mengenalmu, Siapa Kau??, Mau menolong atau mengumpat segala keterbatasanku”, ulu hatiku semakin terasa perih, nafasku tersengal-sengal menahan rasa sakit itu, kakiku pun terasa mulai kesemutan dan mati rasa

Pandangan saya menghitam ketika sosok itu semakin mendekat, samar-samar terdengar suara dari sebelah kanan telinga saya “Maafkan saya, saya hanya menjalankan tugas, bahwasannya saya harus menjemputmu sekarang juga, ya sekarang”, lalu ……..

9 Menit Kemudian, 29 Februari 2008 Pukul 13.04

Saya kaget dan terbangun ketika melihat orang-orang disekililingku sudah mengerubungi Ibuku, yang terbujur kaku, dengan mulut pucat sedikit ternganga, masih belum kering bekas air mata diujung matanya. Saya sesungguhnya percaya bahwa hari ini cepat atau lambat akan datang, tapi saya masih belum siap apabila harus secepat ini.

Tiba-tiba muncul bayangan kejadian waktu Ibuku masih memangku aku dan adikku, sore hari, beliau menyuapi kami beberapa potong roti, indah sekali waktu itu, kami memang miskin tapi tidak terbayang sama sekali bahwa kami harus mengalami hal tragis semacam ini. Sebuah kejadian yang sangat langka terjadi, kalau melihat kenyataan bahwa kami tinggal dan hidup di sebuah negara agraris, gemah ripah loh jinawi, yang berpenghunikan manusia-manusia yang peduli. Tak lama bayangan semacam itu buyar oleh sesosok yang memegang ujung kepala saya dan berkata “saya juga akan menjemputmu..”

Makassar, 29 Februari Pukul 13.05

“saya sudah berjuta-juta kali mencabut nyawa manusia, tak ada kesan, karena memang itulah tugas saya. Hidup dan Mati adalah hal yang biasa dan memang merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari manusia, tapi kematian yang dialami hilmi dan salma adalah kematian yang terlampau berat saya lakukan, kematian karena kelaparan adalah kematian yang belum bisa diterima, mengingat manusia adalah makhluk-makhluk yang seharusnya sempurna”

* Judul “Hungry Planet” dikutip dari sebuah diskusi Soegeng Sarjadi Forum pada tanggal 26 Maret 2008 dengan judul yang sama.

*Tulisan ini terinspirasi oleh kisah nyata ini

Posted in umum | Tagged: , | Leave a Comment »

Contributor1 Menjawab

Posted by contributor1 on March 10, 2008

id.jpgBukan bermaksud untuk membela diri, atau berusaha menutup diri dari segala kritik, atau mencoba membenarkan apa yang telah saya lakukan, bukan, bukan itu, tapi saya hanya sekedar ingin memberikan sebuah pandangan baru tentang budaya dialog yang elegan dan konstruktif.

 

Sebelumnya kepada moderator, mohon ijin dulu yee, ane permisi mau nulis dikit, biar lumayan rame nih blog, ane janji dech kagak nulis yang macem-macem, Okey Om ?? Alhamdulillah

 

Menindaklanjuti dan menanggapi komentar yang beredar di milis mengenai siapa sosok dibalik contributor1, dan mengenai tulisan “resensi: Mereka Bilang Aku Kafir” yang dianggap copy-paste dari artikel lain, dengan ini saya memberikan hak jawab saya secara benar, supaya tidak terjadi keributan yang semakin besar *sok berpengaruh* dan mengganggu ketenangan jiwa serta tumbuh-kembang raga saya

 

Saya Menjawab Mengenai Copy-paste

Saya akui bahwa di tulisan “resensi: Mereka Bilang Aku Kafir” ada beberapa hal yang memang dengan sengaja terpaksa harus saya copy-paste dari artikel lain, tapi tunggu dulu, jangan beranggapan bahwa artikel tersebut saya copy-paste secara frontal, karena disana tetap saya berikan nilai tambah agar values dari artikel tersebut bisa masuk dan nyampe ke benak dan sanubari para pembaca.

Copy-paste saya adalah sebuah keterpaksaan, pengakuan keterbatasan diri, dan bentuk sikap frustasi terhadap perkembangan blog fosil yang apabila tidak diisi sesuatu secara konsisten- ntah itu emas atau sampah- maka dengan baca Bismillah blog ini akan pelan-pelan menuju ke arah balik-kanan-bubar-jalan *aduh moderator maap nih, ane keceplosan*.

 

Copy-paste menurut saya juga tidak harus dimusuhi, tapi harus diberdayakan secara seimbang untuk tujuan yang benar. Mungkin dengan alasan ego kita belum bisa menerima karya orisinil dan tidak orisinil, tapi apa dengan alasan ego pula kita akhirnya harus melupakan satu kata: yaitu ke-berguna-an. Ya alih-alih melamun, menunggu datangnya sebuah orisinalitas, dan akhirnya komentar yang g jelas, mending memberdayakan yang sudah ada untuk pembelajaran terhadap kita-kita.

 

Saya Menjawab Tentang Konten dan Konteks

Kalau masalah ini mungkin sudah jamak terjadi di masyarakat, kita kurang bisa membedakan apa itu konten, apa itu konteks, dan pada akhirnya hanya kontennya saja yang kita lihat, karena lebih sulit mencari konteks dari sebuah permasalahan daripada kontennya. Lebih mudah meributkan siapa penulis, dari mana tulisannya berasal, judulnya apa, daripada mencari makna dan tujuan dari sebuah tulisan. Yach karena ini masalah yang seolah-olah sudah mendarahdaging dan berkerak dimana-mana, saya tidak berani berkomentar banyak.

Saya menjawab Siapa Contributor1

Mungkin saya adalah satu dari jutaan manusia norak di dunia yang masih mempertahankan budaya menggunakan nickname dimana saja saya berada. Tapi sekali lagi ini tak penting, dan tak perlu bingung mengenai hal ini, karena saya pun tidak pernah bingung mengenai nama yang saya berikan ini. Sayangilah resource otak anda, percuma, kalau beberapa persennya hanya untuk memikirkan nama tersebut.

Mungkin beberapa dari anda menganggap tulisan ini hanya sampah, saya maklum, saya mengakui juga hal itu, tapi yang belum anda tahu adalah bahwa tulisan ini adalah jenis sampah organik, yang dengan sendirinya akan menjadi sesuatu yang busuk dan hancur oleh kematangan waktu. Dan tentunya dengan harapan dan pemanfaatan yang tepat, semoga tulisan ini berlanjut menjadi semacam pupuk agar tanaman berupa blog ini menjadi bertambah subur.

Posted in Uncategorized | Tagged: | 4 Comments »

Resensi : Mereka Bilang Aku Kafir

Posted by contributor1 on March 6, 2008

muhammad-idris.jpgBuku yang satu ini menurut saya cukup berani, di tengah-tengah maraknya pemberitaan dan perdebatan tentang aliran-aliran yang dianggap sesat, yang menurut beberapa orang malah cenderung dianggap sudah masuk dalam kategori “meresahkan”, novel ini maju dengan tema tepat dan dalam waktu yang tepat juga.

Muhammad Idris adalah penulis buku ini, berjudul “Mereka Bilang Aku Kafir, novel Pertobatan Seorang Anggota Aliran Sesat”, diterbitkan oleh Hikmah, Oktober 2007. Novel yang diangkat berdasarkan pengalaman pribadi penulis ketika beliau masuk ke dalam sebuah aliran yang dianggap menyimpang dari budaya keislaman yang lazim, ironisnya si tokoh utama disini juga adalah seorang alumni sebuah pesantren.

__________________________________

Kata Kunci Kafir

Inti cerita bermula dari kehidupan si Idris, yang baru saja menyelesaikan pendidikan pesantrennya, dan kembali ke kampung halamannya di Jakarta. Dan akhirnya beliau berkenalan dengan seseorang bernama Pak Hanafi, nah dalam perjalanannya, Idris diajak oleh pak Hanafi untuk mendalami agama di rumahnya dengan tujuan mampu memahami Alquran dalam waktu yang singkat.

Tanpa disadari oleh Idris, lama kelamaan, Pak Hanafi mengajaknya untuk bergabung dengan sebuah organisasi keislaman tetapi menganut pemahaman yang diduga menyimpang dari ajaran yang berkembang di masyarakat. Pak hanafi dan kawan2, melakukan pendekatan kepada idris dengan cara yang sangat sistematis, dan kebanyakan dari mereka sudah mempelajari masalah-masalah psikologi sehingga dengan sangat mudah untuk mempengaruhi dan membuat percaya calon anggota.

Mengenai kasus idris ini, kebetulan si idris adalah sosok yang sangat ingin mendalami agama, dan oleh Pak Hanafi dkk dimanfaatkanlah momment tersebut untuk menjebak si idris dengan menyebut Idris sebagai orang kafir. Idris berontak, tapi semakin berontak idris terhadap tuduhan tersebut, semakin dalamlah ia masuk kedalam perangkap pak hanafi. Idris kemudian masuk ke dalam organisasi tersebut, dan mengikuti segala aktifitasnya, mulai dari training2 untuk mendapatkan anggota baru dan trik untuk mempengaruhi anggota baru tersebut untuk menarik harta2 mereka.

Selajutnya Idris pun aktif dalam organisasi tersebut, sampai akhirnya menikah dengan salah satu guru di pesantren yang dibangun oleh organisasi itu. Akhir dari perjalanan cerita ini, dimulai dari lahirnya anak pertama Idris, yang nantinya mulai mempengaruhi pikiran idris menjadi lebih terbuka terhadap pemikiran2 diluar ajaran yang dianutnya sekarang. Dan dengan ijin Allah, semua akhirnya terwujud, Idris berhasil keluar dan memulai hidup barunya bersama keluarga.

__________________________________

Nilai-Nilai

Pikiran Terbuka dan Pembelajaran Seumur Hidup

Melihat pengalaman dari si Idris yang notabene seorang lulusan dari sebuah pesantren bisa masuk kedalam kelompok yang dianggap sesat, menunjukkan bahwa sebenarnya kita harus terus mengupgrade diri akan pengetahuan tentang keislaman secara universal tanpa mengkotak-kotakan dari kelompok mana ajaran tersebut berkembang. Dari pengetahuan tersebut akhirnya kita bisa tahu dengan sendirinya mana yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah, dan mana yang tidak. Proses pencarian dan pembelajaran ini adalah proses seumur hidup dan tidak terjadi dalam waktu yang singkat.

Islam adalah Agama yang Sempurna, tapi yang Maha Sempurna tetaplah Allah

Bukannya bermaksud minder terhadap status keagamaan Saya, bahkan sampai detik inipun status saya masih muslim (setidaknya di KTP masih tercantum), dan saya tidak pernah menyoal mengenai aliran keislaman saya, tapi saya hanya ingin mempertegas posisi dan fungsi agama sebagai alat untuk mendekatkan diri kita kepada Dzat Yang Maha Sempurna:Allah, karena dari situlah kita baru bisa lolos dari jebakan pengkotak-kotakan antara kafir dan tidak kafir, lolos terhadap fanatisme buta terhadap suatu aliran, dan juga lolos dari pendewaan terhadap satu orang ulama saja. Aliran hanyalah sebuah seragam, dan sangat sesempit-sempitnya pemikiran apabila kita merobek-robek seragam orang lain dan memaksa mereka memakai seragam yang kita pakai, sedangkan esensi ilahiah dibalik sebuah seragam itu tidak bisa kita dalami.

Cak Nun pernah berpendapat tentang makna shahadat, bahwa sebelum seseorang mengenal apa itu arti Illallah (Hanya Allah), maka seharusnya mereka mengenal terlebih dahulu arti laa illaha, yang artinya tidak ada Tuhan, Ulama, Bapak, Ibu, Presiden, Uang, bahkan Agama itu sendiri tidak berhak menamakan dirinya sebagai Tuhan, atau yang dapat dipertuhankan, yang kita bela sedimikian rupa, dan berhak menentukan siapa itu kafir dan tidak kafir. Apabila kita sudah memahami itu, maka dengan sendirinya kita akan tahu apa-apa yang dibalik makna sebuah Illallah.

_________________________________

Fully Recomended

Buku ini cukup bagus, dan saya merekomendasikan kepada anda, bukan untuk mempengaruhi anda, dalam menilai dan menghukum suatu kelompok, tapi untuk belajar bersama-sama dan mencoba untuk berpikir terbuka terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Apa yang dialami oleh tokoh bernama idris ini setidaknya memberikan gambaran bagi kita terhadap adanya landasan keislaman yang lain, dan dengan demikian kita bisa memilah dan memilih untuk berdiri di landasan yang terbaik.

Posted in Buku | Tagged: , , | 5 Comments »

yours and mine..

Posted by dhanhanafi on March 4, 2008

Gelaran gathering yang berjudul “Serangan Oemoem 1 Maret 2008″ usai sudah. Selalu masih ada penggalan pelengkap cerita yang tersisa agar menjadi sebuah narasi yang indah bernama gathering secara utuh. Dessert untuk acara bancakan (makan-makan) bagi kita semua. Sebuah ‘nuwun sewu’ yang melengkapi ‘kulo nuwun’ di awal cerita.

Sebuah penegasan bahwa tujuan dari acara ini adalah untuk kita semua, keluarga besar Fosil-X. Untuk itulah, demi menutup melengkapi alur cerita gathering ini, perkenankan saya mewakili panitia mengucapkan terimakasih atas partisipasi aktif anda, ya..kita semua termasuk saya sendiri. Sungguh saya tidak bisa membayangkan sebuah gathering tanpa hadirnya kita semua. Ibarat sebuah tumpeng raksasa, lengkap dengan lawuh dan ingkung iwak pitik nya, tapi tanpa ada guyub bancakan. Muspro begitu saja. Satu lagi, barangkali ada kesalahan selama penyelenggaraan, nggih nyuwun agunging pangaksami, kawula pancen kathah lepat. Terakhir yang bisa saya sampaikan, ini gathering anda, saya dan kita semua. Yours and mine….

Monggo bagi yang mau urun perasaan, unek-unek, foto (barangkali), kesan dan pesan, request lagu, arisan panci…. silahkeun ditumplek-blek kan di section comment..

salam hangat,

Denmas Nyambik Darmadji

PS:

  • special thanks to tim koordinator (pipit, ajix, galih, mulan jamalee, blonk), sejujurnya saya lebih suka dengan istilah koordinator daripada ‘panitia’ karena akan ada dikotomi peserta dan panitia, sebuah hal pembelajaran dari even fosil yang dulu-dulu bahwa panitia selalu di-’capek’-kan..dan alhamdulillah kali ini insyaallah tidak lagi :)
  • kaluwargo warung mas’e, sebuah tempat di bilangan pasar minggu yang exclusive buat cangkrukan selama persiapan..ya, ada inspirasi, ide, emosi, putus asa dan harapan yang terekam dan tertinggal di sana :D .

Posted in Event, Gathering, umum | 4 Comments »

Happy Wedding Rukma Tri Kuncoro Ningtyas

Posted by masboim on March 3, 2008

berikut cuplikannya :

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan mengharap rahmat dan ridho Allah SWT,
kami bermaksud menyelenggarakan tasyakuran Walimatul ‘Ursy kami yang Insya Allah akan diselenggarakan pada:
Hari: Jumat, 21 Maret 2008
Waktu : Pukul 02.00 WIB – selesai
Tempat : Desa Gandukepuh Rt/Rw 01/01 Kec. Sukorejo – Ponorogo
Kehadiran serta doa restu Bapak/Ibu/Saudara(i) merupakan kehormatan dan kebahagian bagi kami.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Rukma & Bayu


kami Fosil-X sekeluarga mengucapkan
semoga menjadi keluarga yang SAKINAH, MAWADAH dan WAROHMAH

Fosil-X malang ? are you ready ??

Posted in Event, Keluarga | Tagged: | 15 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.